Refleksi Waktu

Time IllustrationAyo kita balik dulu belasan tahun kebelakang, mungkin sebagian dari kita banyak yang lahir di penghujung generasi 90an. Di tahun itu kita adalah anugrah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kedua orang tua kita. Lalu kita dikenalkan kepada kehidupan, kepada Ayah, Ibu, keluarga dan banyak hal lainnya.

Di tahun itu, di hari lebaran, kita di ajak untuk mengunjungi Kakek dan Nenek. Kita adalah cucu kesayangan mereka. Bahagia mereka jika bercengkrama dengan kita.

Puluhan tahun berikutnya, kita sudah disibukan dengan urusan dunia. Belajar, bekerja, merantau pula mungkin. Dan saat berlebaran, ada suatu masa kita hanya bisa berkesempatan mengunjungi Ayah Ibu kita, dan mendoakan mereka yang telah tiada.

Maju kembali belasan atau puluhan tahun kemudian. Kesedihan akan terganti dengan tahun-tahun kebahagian. Kita tidak akan pulang lagi sendiri. Dengan riangnya kita pulang dengan suami/istri tercinta, pasangan yang dengannya kita berkomitmen untuk hidup bersama. Orang tua kita tentu berbahagia, merasakan kehidupan baru yang tumbuh di keluarga.

Beberapa waktu setelah itu kita akan kehadiran seseorang yang tak ternilai harganya. Ya, si buah hati. Saat kita ajak sekeluarga pulang, kebahagian kedua orang tua kita tidak bisa tergambarkan lagi, bermain bersama cucunya tercinta. Mereka sudah menjadi Kakek dan Nenek sekarang.

Puluhan tahun berlalu. Hidup berputar. Anak-anak kita mulai sibuk dengan kesibukannya. Kita bertambah dewasa dan bijaksana untuk menyiapkan masa depan, kedua orang tua kita mulai renta dan kita lah yang mulai mengurusnya. Dan angin dingin pun mulai menyelimuti kita, usia dan Yang Maha Kuasa mulai memanggil kedua orang yang sangat kita cintai. Menyadari betapa rindunya kita saat mereka sudah tiada.

Hidup masih berputar. Tiba saatnya kita melepas anak kita untuk berkeluarga. Dan kita kembali hidup berdua, menghabiskan waktu untuk saling mengisi apa yang Tuhan telah beri. Di hari yang sama, hari lebaran, giliran kita yang dikunjungi. Merekalah yang membawa kebahagian kepada kita, anak dan cucu kita. Jabatan kita sudah menjadi Kakek/Nenek saat ini.

Puluhan tahun semenjak kita dilahirkan. Zaman berganti. Apa yang kita ingat dengan kenangan telah berganti menjadi sejarah yang sering diceritakan kepada cucu kita. Tak terasa lamanya kita hidup didunia.

Ada suatu saat dimana cucu kita sudah mempunyai cucunya sendiri. Anak kita sudah menjadi Kakek/Nenek. Pada lebaran itu mereka semua berkumpul di rumah yang sama, rumah saksi segala manis-pahit yang terjadi. Anak kita duduk di kursi bacanya, cucu kita sedang bercengkrama dengan tetangga, cicit kita sedang bermain di halaman rumah. Tapi bisakah bayangkan dimana posisi kita? Dimana kita saat semua kehidupan itu terulang lagi?

Mungkin saat itu kita adalah orang yang pertama kali mereka kunjungi. Selepas solat Ied mereka bersama-sama pergi, membawa keceriaan anak-anaknya dengan baju lebarannya, mendoakan kita, membersihkan rumah kita. Sayangnya kita hanya sebuah batu yang kasar, nisan yang di dunia ini tak pernah lagi bisa bercengkrama dengan mereka.


Terinspirasi dari budaya silaturahmi sanak keluarga saat Syawal tiba. Mungkin tiap tahun kita pergi/pulang ke tempat yang sama, rumah yang sama, tapi dengan orang yang berbeda. Ada yang datang, ada yang pergi.
Waktu berlalu tak selama yang kita bayangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s